DEMAM TIFOID
Disusun oleh :
1.
Nurul Khomariah (G1B013003)
2.
Artha Claudia
Marpaung (G1B013011)
3.
Lu’lu’ Syarifah (G1B013025)
4.
Yesinta Bella
Savitri (G1B013087)
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN
KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU
KESEHATAN
JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT
PURWOKERTO
2014
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI
................................................................................................ ........... 2
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................ ........... 3
A.
Latar Belakang
............................................................................ ........... 3
B.
Rumusan Masalah
....................................................................... ........... 3
C.
Tujuan
..................................................................................................... 4
BAB II PEMBAHASAN ......................................................................................... 5
A.
Riwayat Alamiah
Tifoid ......................................................................... 5
B.
Hubungan Agent,
Host dan Environment ................................... ........... 8
C.
Upaya Pencegahan Penyakit
Tifoid ............................................ ........... 10
BAB III PENUTUP
................................................................................................. 15
A.
Kesimpulan
................................................................................. ........... 15
B.
Saran
........................................................................................... ........... 16
DAFTAR PUSTAKA
................................................................................... ........... 17
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Tifus merupakan penyakit infeksi akut yang termasuk
endemik di Indonesia, yang dapat terjadi pada balita, anak-anak maupun orang
dewasa. Demam Thipoid atau sering disebut dengan tifus ini bukan merupakan
penyakit baru, namun kemunculannya sampai sekarang belum bisa diberantas.
Panyakit ini juga dapat muncul kembali jika penanganannya atau
pengobatannya tidak sampai tuntas.
Kuman salmonella merupakan penyebab penyakit demam
thypoid yang menyerang pada usus, jenisnya yaitu salmonella typhi dan salmonella
paratyphi A, B, C. Salmonella typhi lebih ganas dibandingkan dengan salmonella
paratyphi A, B, C. Salmonella dapat hidup lama di dalam tinja sampah, daging,
telur, makanan yang dikeringkan, bahkan dalam bahan kimia seperti zat pewarna
makanan sekalipun.
Di saat musim hujan, penyakit tifus mulai banyak
menyerang karena bakteri dengan mudah berkembangbiak. Tifus sering terlambat
terdiagnosis karena gejalanya mirip penyakit lain. Ciri-ciri umun gejala tifus
yaitu pusing seperti akan flu, demam disertai nyeri, mual dan lemas, panas,
badan terasa tidak enak dan lemas. Tifus disebabkan oleh infeksi bakteri
Salmonella typhi yang berasal dari makanan atau minuman yang sudah
terkontaminasi bakteri tersebut dari kotoran orang yang sebelumnya terkena
tifus. Karenanya penyakit ini bisa menular, untuk itu bagi orang yang terkena
tifus setelah buang air besar harus mencuci tangan hingga bersih.
B. Rumusan
Masalah
1. Bagaimana
riwayat alamiah penyakit typhus
2. Bagaimana
hubungan host, agent, environment dengan penyakit typhus
3. Bagaimana
pencegahan penyakit typhus
C.
Tujuan
1.
Mengetahui riwayat
alamiah penyakit typhus atau demam tipoid.
2.
Mengetahui hubungan
host, agent dan environment dengan penyakit typhus.
3.
Mengetahui cara
pencegahan penyakit typhus.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Riwayat
Alamiah Tifoid
Demam Tifoid (Typhus abdominalis,Typhoid fever, enteric fever) merupakan penyakit infeksi akut yang
biasanya terdapat pada saluran pencernaan dengan gejala demam selama satu
minggu atau lebih dengan disertai gangguan pada saluran pencernaan dan dengan
atau tanpa gangguan kesadaran. Penularan penyakit ini hampir selalu
terjadi melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi.
Penyakit tifoid disebabkan oleh infeksi kuman Salmonella
Typhosa, basil gram negatif, berflagel (bergerak dengan bulu getar),
anaerob, dan tidak menghasilkan spora. Bakteri tersebut memasuki tubuh manusia
melalui saluran pencernaan dan manusia merupakan sumber utama infeksi yang
mengeluarkan mikroorganisme penyebab penyakit saat sedang sakit atau dalam
pemulihan. Kuman ini dapat hidup dengan baik sekali pada tubuh manusia maupun
pada suhu yang lebih rendah sedikit, namun mati pada suhu 70°C maupun oleh antiseptik. Demam tifoidadalah penyakit infeksi yang
disebabkan oleh Salmonella typhi atau Salmonella paratyphi A, B
atau C (Soedarto, 1996).
1.
Masa Inkubasi dan Klinis Masa
Inkubasi
Masa inkubasi dapat berlangsung 7 - 21 hari, walaupun pada
umumnya adalah 10 - 14 hari. Pada awal penyakit keluhan dan gejala penyakit
tidaklah khas, berupa :
a. Anoreksia
b. Rasa malas
c. Sakit kepala bagian depan
d. Nyeri otot
e. Lidah kotor
f. Gangguan perut ( perut meragam dan
sakit )
2.
Masa laten dan Periode Infeksi
Minggu Pertama ( awal terinfeksi )
Setelah melewati masa inkubasi 10-14 hari, gejala penyakit
itu pada awalnya sama dengan penyakit infeksi akut yang lain, seperti demam
tinggi yang berpanjangan yaitu setinggi 39ºC hingga 40ºC, sakit kepala, pusing,
pegal-pegal, anoreksia, mual, muntah, batuk, dengan nadi antara 80-100 kali
permenit, denyut lemah, pernapasan semakin cepat dengan gambaran bronkitis
kataral, perut kembung dan merasa tak enak,sedangkan diare dan sembelit silih
berganti. Pada akhir minggu pertama,diare lebih sering terjadi. Khas lidah pada
penderita adalah kotor di tengah, tepi dan ujung merah serta bergetar atau tremor.Episteksis
dapat dialami oleh penderita sedangkan tenggorokan terasa kering dan beradang.
Jika penderita ke dokter pada periode tersebut, akan menemukan demam dengan
gejala-gejala di atas yang bisa saja terjadi pada penyakit-penyakit lain juga.
Ruam kulit (rash) umumnya terjadi pada hari ketujuh dan terbatas pada abdomen
disalah satu sisi dan tidak merata, bercak-bercak ros (roseola) berlangsung 3-5
hari, kemudian hilang dengan sempurna. Roseola terjadi terutama pada penderita
golongan kulit putih yaitu berupa makula merah tua ukuran 2 - 4 mm,
berkelompok, timbul paling sering pada kulit perut, lengan atas atau dada
bagian bawah, kelihatan memucat bila ditekan. Pada infeksi yang berat, purpura
kulit yang difus dapat dijumpai.Limpa menjadi teraba dan abdomen mengalami
distensi.
Minggu Kedua
Jika pada minggu pertama,
suhu tubuh berangsur-angsur meningkat setiap hari, yang biasanya menurun
pada pagi hari kemudian meningkat pada sore atau malam hari. Karena itu, pada minggu kedua suhu
tubuh penderita terus menerus dalam keadaan tinggi ( demam ). Suhu badan yang
tinggi, dengan penurunan sedikit pada pagi hari berlangsung.Terjadi perlambatan
relatif nadi penderita.Yang semestinya nadi meningkat bersama dengan
peningkatan suhu, saat ini relatif nadi lebih lambat dibandingkan peningkatan
suhu tubuh.Gejala toksemia semakin berat yang ditandai dengan keadaan penderita
yang mengalami delirium.Gangguan pendengaran umumnya terjadi. Lidah tampak
kering,merah mengkilat. Nadi semakin cepat sedangkan tekanan darah menurun,
sedangkan diare menjadi lebih sering yang kadang-kadang berwarna gelap akibat
terjadi perdarahan.Pembesaran hati dan limpa.Perut kembung dan sering
berbunyi.Gangguan kesadaran.Mengantuk terus menerus, mulai kacau jika
berkomunikasi dan lain-lain.
Minggu Ketiga
Suhu tubuh berangsung - angsur turun dan normal kembali di
akhir minggu.Hal itu jika terjadi tanpa komplikasi atau berhasil diobati. Bila
keadaan membaik, gejala-gejala akan berkurang dan temperatur mulai turun.
Meskipun demikian justru pada saat ini komplikasi perdarahan dan perforasi
cenderung untuk terjadi, akibat lepasnya kerak dari ulkus.Sebaliknya jika
keadaan makin memburuk, dimana toksemia memberat dengan terjadinya tanda-tanda
khas berupa delirium atau stupor,otot-otot bergerak terus, inkontinensia alvi
dan inkontinensia urin.Meteorisme dan timpani masih terjadi, juga tekanan
abdomen sangat meningkat diikuti dengan nyeri perut.Penderita kemudian
mengalami kolaps.Jika denyut nadi sangat meningkat disertai oleh peritonitis
lokal maupun umum, maka hal ini menunjukkan telah terjadinya perforasi usus
sedangkan keringat dingin,gelisah,sukar bernapas dan kolaps.Dari nadi yang
teraba denyutnya memberi gambaran adanya perdarahan.Degenerasi miokardial
toksik merupakan penyebab umum dari terjadinya kematian penderita demam tifoid
pada minggu ketiga.
Minggu keempat
Merupakan stadium penyembuhan meskipun pada awal minggu ini
dapat dijumpai adanya pneumonia lobar atau tromboflebitis vena femoralis.
B. Hubungan Host, Agent. Dan Environment
a. Host
Manusia adalah sebagai
reservoir bagi kuman Salmonella thypi.Terjadinya
penularan Salmonella thypi sebagian
besar melalui makanan atau minuman yang tercemar oleh kuman yang berasal dari
penderita atau karier yang biasanya keluar bersama dengan tinja atau urine.Dapat
juga terjadi trasmisi transplasental dari seorang ibu hamil yang berada dalam
bakterimia kepada bayinya. 18 Penelitian yang dilakukan oleh Heru Laksono
(2009) dengan desain case control,
mengatakan bahwa kebiasaan jajan di luar mempunyai resiko terkena penyakit
demam tifoid pada anak 3,6 kali lebih besar dibandingkan dengan kebiasaan tidak
jajan diluar dan anak yang mempunyai
kebiasaan tidak mencuci tangan sebelum makan beresiko terkena penyakit demam
tifoid 2,7 lebih besar dibandingkan dengan kebiasaan mencuci tangan sebelum
makan.
a. Faktor Biologis
Biasanya di lihat dari keasaman lambung, daya tahan usus,
bakteri, pengetahuan kurang tentang faktor penyebaran penyakit, karier yang
semakin hari semakin sibuk tanpa memperhatikan kesehatannya, ebiasaan
makan-makanan yang pedas-pedas.
b. Faktor Fisik
Dapat dilihat dari kurangnya berolahraga atau beraktivitas
setiap hari dan jajan sembarangan tanpa memperhatikan kualitas makanan atau
minuman yang dapat mempengaruhi kesehatan dan kebersihan yang tidak terjaga di
lingkungan sekitar.
c. Faktor Kimiawi
Misalnya dengan pemberian obat pembasmi serangga untuk membasmi lalat sebagai vektor pembawa bakteri Salmonella thypi.
d. Faktor Sosial
Biasanya dilihat dari ekonominya
yang rendah dan gaya hidup yang kurang sehat. Banyak hal yang
bisa dilakukan untuk mencegah tertularnya atau terjangkitnya penyakit tifoid. Hal yang paling mendasar yang harus diperhatikan adalah kebersihan
lingkungan, makanan, serta minuman. Pastikan bahwa piring serta alat-alat lainnya yang kita gunakan makan dan minum bersih
dan dicuci dengan sabun. Begitu pula manusia sebagai penjamu, sudah selayaknya
cuci tangan menggunakan sabun sebelum memasukkan sesuatu kedalam mulut.
b. Agent
Demam
tifoid disebabkan oleh bakteri Salmonella
thypi.Jumlah kuman yang dapat menimbulkan infeksi adalah sebanyak 105
– 109 kuman yang tertelan melalui makanan dan minuman yang
terkontaminasi.Semakin besar jumlah Salmonella
thypi yang tertelan, maka semakin pendek masa inkubasi penyakit demam
tifoid.
c. Environment
Demam tifoid merupakan penyakit infeksi
yang dijumpai secara luas di daerah tropis
terutama di daerah dengan kualitas sumber air yang tidak memadai dengan
standar hygiene dan sanitasi yang
rendah. Beberapa hal yang mempercepat terjadinya penyebaran demam tifoid adalah
urbanisasi, kepadatan penduduk, sumber air minum dan standart hygiene industri pengolahan makanan yang masih rendah.Berdasarkan
hasil penelitian Lubis, R. di RSUD. Dr. Soetomo dengan desain case control, mengatakan bahwa higiene
perorangan yang kurang, mempunyai resiko terkena penyakit demam tifoid 20,8
kali lebih besar dibandingkan dengan yang higiene perorangan yang baik dan
kualitas air minum yang tercemar berat coliform beresiko 6,4 kali lebih besar
terkena penyakit demam tifoid
dibandingkan dengan yang kualitas air minumnya tidak tercemar berat coliform.